Menghitung Hujan Part 8

By ara - 9/17/2017




Andai engkau tahu betapa ku mencinta 
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku 
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta 
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya 
Jika aku bukan jalanmu 
Ku berhenti mengharapkanmu 
Jika aku memang tercipta untukmu 
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu          
 [Afgan -Jodoh Pasti bertemu] 
  
  
  
Begitu sampai di rumah, Diandra langsung melemparkan buku-buku yang dibelinya ke meja depan. Dia melirik sedikit dan dadanya berdenyut ketika melihat sampul buku berjudul 'Jane Eyre' itu. Langsung terbersit di benaknya wajah Nana yang bercahaya ketika menerangkan tentang buku itu. Nana tampak bahagia, cantik dan ceria, seakan tidak menanggung beban apapapun di benaknya. 
  
Itukah perempuan yang telah merenggut hati Reno darinya? 
  
Diandra mengambil buku itu dan menggenggamnya erat di jemarinya, benaknya berkelana, tiba-tiba saja membayangkan bagaimana jika Reno tersenyum lembut kepada Nana, bagaimana ketika dua anak manusia itu berjalan bersama-sama dan tampak begitu cocok. Visualisasi itu membuat dada Diandra terasa sesak dan sakit. 
  
***  
  
  
"Aku ingin mengajakmu." Nana menatap Reno yang sedang duduk di depannya dengan senyuman setengah cemas. 
  
Reno menyesap kopinya, menatap Nana dari atas cangkirnya, 'Kemana?" 
  
Nana menghela napas, lalu membulatkan tekad, "Ke makam Rangga." 
  
Tangan Reno yang hendak meletakkan cangkir itu membeku di udara, tampak terkejut, Sementara itu, Nana menatap Reno dengan tatapan cemas,  
  
"Kau mau ikut?" 
  
Reno termenung, lalu mengangguk dan tersenyum, "Tentu saja.... kapan?" 
  
"Hari minggu, biasanya di minggu kedua aku mengunjungi makam Rangga, mengantarkan bunga dan berbicara tentang kehidupanku." Mata Nana tampak sendu, "Aku sudah menceritakan tentangmu kepada Rangga.... aku...... entah bagaimana, Rangga masih merupakan bagian penting dalam hidupku.... kuharap kau mengerti." 
  
Jemari Reno terulur dan menyentuh jemari Nana, meremasnya lembut, "AKu mengerti sayang..." 
  
***  
  
Lama setelahnya Reno termenung sendirian di rumah dan menatap dirinya sendiri di kaca, dia telanjang dada, hanya mengenakan celana piyama warna abu-abu yang menggantung rendah di pinggangnya. 
  
Matanya terpaku di sana, menatap ke arah dadanya, bekas jahitan itu, tempat jantung milik Rangga disematkan di sana, untuk menyelamatkan hidupnnya. 
  
Mengunjungi makam Rangga......  
  
Reno mengernyitkan keningnya, makam lelaki itu.. lelaki yang sangat mencintai Nana, bahkan ketika jiwanya sudah tidak ada di dunia ini, jantungnya masih berdenyut penuh cinta untuk Nana. Lelaki yang juga amat sangat dicintai oleh Nana... 
  
Reno mendesah, jemarinya meraba bekas jahitan itu dan benaknya langsung bertanya-tanya, akan jadi apakah kisahnya dengan Nana nanti? Apakah hanya akan menjadi kisah cinta lanjutan antara Nana dengan Rangga, yang jantungnya terselubung di dalam tubuhnya? Ataukah menjadi kisah cinta baru, cinta Nana dan Reno? 
  
Untuk pertanyaan yang satu itu..... Reno tidak tahu jawabannya. 
  
***  
  
"Kenapa kau tidak memanfaatkan hari-harimu di Bandung untuk berbelanja dan menikmati wisata kuliner?" Axel menghempaskan diri di sofa, di samping Diandra yang membaca novelnya. 
  
Diandra mengangkat alisnya dan menatap Axel dengan sebal, "Hujan terus setiap hari, bagaimana aku bisa keluar? untuk menuju tempat FO aku harus naik angkot dua kali." ditatapnya Diandra dengan pandangan menuduh, "Dan kau... kau yang harusnya mengantarkanku malahan sibuk setengah mati dengan band-mu." 
  
Axel tergelak, " Sekarang aku sudah bebas dan siap sedia mengantarmu tuan puteri." 
  
Diandra mengangkat alisnya, "Sekarang aku sedang malas." 
  
"Aku tahu tempat makan yang enak dan tempat mencari baju yang bagus." Axel tidak menyerah, "Kau pasti akan suka." 
  
Rupaya kata-kata Axel membuat Diandra tertarik, setelah pertemuannya dengan Nana kemarin, Diandra tidak keluar rumah lagi. DIa ragu, ragu dan takut menghadapi kenyataan kalau harus melihat sendiri cinta Nana dan Reno. Dia masih berusaha menyiapkan hati. Tetapi mungkin ajakan Axel ada gunanya juga untuk mengisi waktu luangnya dan mengatasi kebosanannya di rumah,. 
  
Ditutupnya novel di tangannya dan menatap Axel dengan tertarik, "Tempatnya jauh?" 
  
"Lumayan, tetapi aku tahu jalan supaya kita tidak perlu menembus kemacetan." Axel berdiri, sudah yakin kalau Diandra akan mengikutinya, "Ayo berangkat sekarang." 
  
***  
  
Mereka memasuki factory outlet yang besar itu, yang katanya merupakan pioner Factory Outlet yang didirikan di jalan Riau, dan kemudian menghidupkan wisata FO di kawasan jalan Riau Bandung, terletak di depan kantor pos besar Jalan Riau, dua bangunan yang bertolak belakang tetapi terletak dalam satu ruang. Yang satu adalag gedung Herritage, dengan gaya kolonial belandanya yang khas, dan masih merupakan cagar budaya kota bandung, dan yang satunya lagi adalah gedung Cascade dengan gayanya yang modern dan kolam air yang indah di depannya. Dua bangunan itu bertolak belakang, tetapi entah kenapa tampak cocok ketika disandingkan. 
  
Axel melangkah turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Diandra, "Ayo, kita makan dulu. Di sini es cendolnya enak.... dan ada mie Tuna yang sangat lezat, kau pasti akan suka begitu mencicipinya. Setelah itu aku akan mengantarkanmu berbelanja pakaian. Disini koleksi pakaiannya bagus-bagus, kau pasti suka." 
  
Diandra terkekeh sambil turun dari mobil dan berjalan di sisi Axel, "Tidak biasanya, kau baik sekali kepadaku, setahuku kau paling sebal kalau diajak menemani perempuan berbelanja." 
  
Axel tersenyum dan menatap Diandra dengan tatapan menyesal. "Nenek memarahiku karena sibuk sekali dengan band-ku akhir-akhir ini, sampai-sampai aku tidak bisa menemanimu, dan nenek ada benarnya juga, kau kan jarang-jarang datang ke bandung, seharusnya di waktu yang sempit ini, aku bisa membuat setiap detiknya bermakna." Axel mengedipkan matanya, "Jadi sekarang kau tuan puterinya...." 
  
"Dan au pelayannya." Diandra tergelak, tidak mempedulikan wajah cemberut Axel. Dia melangkah setengah mendahului sepupunya itu, tetapi kemudian langkahnya berhenti dan membeku. 
  
Dahinya mengerut dengan sedih. Kenapa? Kenapa di seluruh tempat di Bandung ini, di seluruh waktu yang ada di dunia ini, dia harus berpapasan dengan Reno dan juga Nana? 
  
Di depannya, ada Reno yang sedang menggandeng Nana, Reno yang dirindukannya tampak tertawa dengan ceria, tampak sehat dan bahagia, jauh sekali dari kenangan Diandra akan Reno dulu, yang selalu murung dan lemah di atas ranjang rumah sakit. Sekarang Reno-nya tampak ceria dan begitu sehat, seolah-olah seluruh energi yang dulu direnggut darinya karena sakitnya telah kembali, 
  
Pertanyaan itu langsung mengiris hatinya kembali. Apakah dia menginginkan Reno yang tanpa jantung baru itu? yang lemah, sakit dan tidak berdaya, tanpa harapan hidup lama... tetapi masih menjadi miliknya? masih mencintainya? Ataukah dia bisa menerima Reno yang sekarang dengan jantung barunya itu, yang begitu sehat, penuh vitalitas dan bisa tertawa lepas... tetapi sudah tidak mencintainya dan sudah tidak dimilikinya? 
  
Pasangan itu rupanya tidak menyadari keberadaan Diandra di depannya, Sampai kemudian Reno yang menyadarinya duluan, matanya berkilat tidak percaya, kemudian berlumur keterkejutan yang luar biasa ketika mendapati ada Diandra yang berdiri di depannya. 
  
Langkahnya setengah tertahan dan dia hampir bersuara. Tetapi rupaya Nana sudah menyadari kehadiran Diandra, dia langsung teringat perempuan itu yang ditemuinya di toko buku dan langsung tersenyum lebar, 
  
"Hai Dian.." Sapa Nana ramah, "Tidak disangka kita bertemu lagi di sini." Sapanya ceria dan terkejut, "Bagaimana Novelnya? sudah dibaca, baguskah?" 
  
Diandra berusaha tidak mempedulikan wajah Reno yang berkerut, juga tubuh Axel yang menegang di sebelahnya. 
  
"Sudah kubaca, bukunya bagus, tapi aku baru sampai di tengah-tengah buku, jadi aku belum tahu rahasia gelap apa yang tersembunyi, meskipun aku mulai menebak-nebak semua misterinya." 
  
Nana tertawa, "Kau pasti akan terkejut, sangat layak untuk dibaca sampai akhir." 
  
"Aku juga merasa begitu." Diandra tiba-tiba menggandeng lengan Axel, "Eh aku harus buru-buru, maaf ya, semoga ada kesempatan lain buat kita bertemu." Dengan cepat ditariknya Axel yang tampak bingung meninggalkan Reno dan Nana. 
  
Ketika mereka sudah jauh, Axel melepaskan pegangan Diandra dengan tatapan tajam, 
  
"Itu tadi Reno, tunanganmu, sedang bersama perempuan lain dan kau bersikap seolah-olah tidak mengenalnya. Ada apa ini Diandra? Adakah yang tidak kau ceritakan kepadaku?" 
  
Diandra menghela napas panjang, "Maafkan aku Axel... sebenarnya aku ingin menyimpan masalahku sendiri... tapi....", napas Diandra terasa sesak tiba-tiba ketika bayangan kebersamaan Reno dan Nana menghantui benaknya, "Bisakah kita duduk dulu? aku akan menceritakan semuanya kepadamu." 
  
Axel mengangguk dan menatap Diandra galak, "Ceritakan semuanya sedetail mungkin." gumamnya, 
  
***  
  
Sementara itu, Nana masih menatap ke arah kepergian Diandra sampai menghilang, lalu menoleh menatap Reno yang entah kenapa tampak begitu tegang, 
  
"Itu tadi kenalanku, kami bertemu di toko buku." 
  
"Kau kenal dia?" suara Reno terdengar tajam. 
  
Nana terkekeh, "Bukan kenal sekali sih.... kami tidak sengaja bertabrakan di toko buku dan dia sedang membeli novel yang aku tahu, jadi kami bercakap-cakap sejenak mengenai Novel....tadi adalah pertemuan kedua kami." 
  
Reno menghela napas panjang, Hatinya dipenuhi pertanyaan. DIandra ada di Bandung? Kenapa? Dan kenapa perempuan itu sampai bisa bertemu dan mengenal Nana? apakah itu hanya kebetulan, ataukah Diandra sudah merencanakannya? 
  
Apakah Diandra belum menyerah tentangnya? 
  
Reno mendesah, merasa sedih. Yang paling diinginkannya adalah Diandra bisa segera melupakannya dan menemukan cinta yang baru, kenapa Diandra tidak mau menyerah? Kenapa perempuan itu lebih memilih menyakiti dirinya sendiri dengan membangun harapan tanpa akhir dan patah hati yang sudah di depan mata? 
  
Reno harus menemui Diandra lagi, dan mencoba untuk menyadarkannya. Diandra harus bisa menerima bahwa apapun yang dilakukannya, tidak akan ada lagi cinta Reno untuknya. 
  

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar